Jumat, 10 Januari 2014

Hadits Shahih yang Menjadi Cikal Bakal Perkumpulan Majelis Maulid Nabi saw

Hadits Shahih yang Menjadi Cikal Bakal Perkumpulan Majelis Maulid Nabi saw

Oleh: Ustadsz Agung

Berikut adalah hadits shahih yang menjadi Cikal Bakal Majelis Maulid, berupa Perkumpulan Dzikir yang dikerjakan oleh para Shahabat di Zaman Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini disebutkan di dalam Shahih sunan an-Nasa’i, berikut ini lafaz hadits shahih tersebut:  


Dari Suwar bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz dari Abu Ni’amah dari Abu Utsman an-Nahdiy dari Abu Sa’id al-Khudriy ia berkata: Berkata Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju halaqah para sahabat beliau, kemudian beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian semua duduk berkumpul?” Mereka para sahabat menjawab, “Kami duduk berkumpul tidak lain untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas karunia petunjuk agama-Nya dan menganugerahkan engkau (Wahai Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada kami.” Kemudian beliau bertanya, “Demi Allah, tidakkah kalian duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu?” Jawab para sahabat, “Demi Allah, tiada kami duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu.” Maka beliau pun bersabda, “Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Akan tetapi karena aku telah didatangi Jibril ‘alaihissalam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat” (Sunan an-Nasa’i).

Hadits shahih tersebut diatas, disamping menjelaskan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, juga menjelaskan tentang perbuatan para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang berkumpul dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah Ta’aala atas anugerah-Nya yang berupa diutusnya baginda Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Bersyukur dan bergembira atas diutusnya Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan salah satu tujuan dilaksanakannya majelis maulid Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

Maulid Dalam Al-Qur’an dan Hadits


Maulid Dalam Al-Qur’an dan Hadits



Rabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang lebih sempurna dari Baginda Nabi SAW. Berkat beliau, seluruh semesta menjadi terang benderang. Kabut jahiliah tersingkap berganti cahaya yang memancarkan kedamaian dan ilmu pengetahuan. Karena itu kita wajib mensyukuri. Tiada nikmat yang lebih berhak untuk disyukuri dari nikmat wujudnya sang kekasih, Muhammad SAW.


Walau masih ada segelintir muslimin yang alergi dengan peringatan maulid Nabi SAW, antusiasme memperingati hari paling bersejarah itu tak pernah surut. Di seluruh belahan bumi, umat Islam tetap semangat menyambut hari kelahiran Nabi SAW dengan beragam kegiatan, seperti sedekah, berdzikir, shalawat, bertafakkur, atau dengan menghelat seminar-seminar ilmiah, bahkan Rasulullah telah mengawali mereka dan memberikan contoh dengan berpuasa setiap hari kelahiran beliau yaitu hari senin. Negara-negara muslim, kecuali Arab Saudi, menjadikan tarikh 12 Rabiul Awal sebagai hari libur nasional. Hari itu pun dijadikan sebagai momen pertukaran tahni’ah (ucapan selamat) bagi sebagian pemimpin negara-negara di Sumenanjung Arab.

Secara harfiah, maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dimafhumi, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

Maulid Nabi Isa a.s.
Dalam Al-Quran banyak tercantum maulid para nabi. Allah SWT mengisahkan Nabi Isa A.S. secara runtun: mulai kelahirannya, lalu diutus sebagai rasul, hingga diangkat ke langit. Coba tengok surat Ali Imran ayat 45 sampai 50. Di situ Allah SWT memulai kronologi kisah Nabi Isa a.s. dengan firmanNya,

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
“(ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”
Dalam Surat Al Maidah ayat 110, Allah SWT lagi-lagi menegaskan sekali lagi siapa sosok Isa a.s., Allah SWT berfirman,

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ
“(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan dirimu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.

Ayat-ayat di atas mengurai sirah nabi Isa a.s. mulai jelang kelahirannya sampai diangkat ke langit. Sebuah data yang tak bisa dibantah keontetikannya. Mengacu terminologi maulid sebagai sirah, jalinan kisah di atas sah-sah saja bila diistilahkan sebagai Maulid Nabi Isa a.s.

Maulid Nabi Yahya
Selain Nabi Isa a.s., Al-Quran juga mencatat “biografi” Nabi Zakaria dan maulid Nabi Yahya Alaihimassalam. Dalam surat Maryam ayat 3 sampai 33, Allah mengisahkan perjalanan hidup Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dengan panjang lebar, dimulai dengan sebuah doa Nabiyullah Zakariya yang penuh pengharapan.
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
“Ia Berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku (pengganti) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, sebagai seorang yang diridhai”.

Kemudian Allah menjawab permintaan rasul-Nya itu, sekaligus sebagai isyarat akan lahirnya sang “putra mahkota”, Nabi Yahya a.s.,
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
“Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya.
Selanjutnya, dengan bahasa yang indah, Al-Quran mengisahkan sirah Nabi Zakaria a.s. dan putranya, Yahya a.s.. Sama seperti perjalanan hidup Nabiyullah Isa a.s., sirah Nabi Yahya bisa pula diistilahkan sebagai Maulid Nabi Yahya karena, hakikatnya, maulid adalah sirah. Begitu pun kisah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf, Nabi Musa dan lainnya.

Maulid Siti Maryam
Tak hanya para nabi. Al-Quran juga mendedah sejarah hidup sebagian kaum shalihin. Salah satunya adalah Siti Maryam, sosok teladan bagi wanita sepanjang masa. Kisah wanita mulia itu dibuka dengan sebuah nazar yang diucapkan seorang ibu yang berhati tulus dalam surat Ali Imran ayat 35 sampai 37.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ )35( فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )36( فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ )37(
“(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

36. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, Sesunguhnya Aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya Aku Telah menamai dia Maryam dan Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sertakan pada artikel ini karena keterbatasan ruang di website ini.

Dari ayat-ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Maulid Nabi SAW, yang memuat sirah Rasulullah SAW, adalah semacam epigon (pengikut) bagi Al-Quranul Karim yang memuat sirah-sirah para nabi dan shalihin. Sebagai pemimpin para nabi, sudah sepatutnya sejarah Nabi Muhammad dibukukan dan dibaca sesering mungkin. Pentingnya mengenang perjalanan hidup Baginda Nabi SAW sangat dirasakan umat Islam pada periode akhir-akhir ini, tatkala berbagai figur non muslim ditawarkan oleh media-media secara gencar.

Hari Istimewa
Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) adalah salah satu tengara.
Fakta lainnya:

Pertama, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (Fathul Bari juz 6/583).

Kedua, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).

Ketiga, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (Fathul Bari juz 6/583).

Keempat, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.
Kelima, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (Fathul Bari 6/583).
Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.

Hikmah maulid
Peringatan maulid nabi SAW sarat dengan hikmah dan manfaat. Di antaranya: mengenang kembali kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta.
Para sahabat radhiallahu anhum kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu misal, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”

Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.
Selain itu, dengan menghelat Maulid, umat Islam bisa berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya, berkat beliau SAW, kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT.

Sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam benak, kenapa membaca sirah baginda rasulullah mesti di bulan maulid saja? Kenapa tidak setiap hari, setiap saat? Memang, sebagai tanda syukur kita sepatutnya mengenang beliau SAW setiap saat. Akan tetapi, alangkah lebih afdhal apabila di bulan maulid kita lebih intens membaca sejarah hidup beliau SAW seperti halnya puasa Nabi SAW di hari Asyura’ sebagai tanda syukur atas selamatnya Nabi Musa as, juga puasa Nabi SAW di hari senin sebagai hari kelahirannya.

Nah, sudah saatnyalah mereka yang anti maulid lebih bersikap toleran. Bila perlu, hendaknya bersedia bergabung untuk bersama-sama membaca sirah Rasul SAW. Atau, minimal – sebagai muslim– hendaknya merasakan gembira dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Sudah sepantasnya di bulan ini kita sediakan waktu untuk mengkaji lebih dalam sejarah hidup Rasul SAW. Jangan lagi menggugat maulid!


Detik-Detik Kelahiran Nabi Muhammad SAW



Bismillahirrahmanirrahim.....
Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di kitabnya An-Ni’matul Kubraa ‘Alal ‘Aalam hal. 61 telah menyebutkan ;
Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah SWT semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah, mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW;
Pada malam tanggal 1 Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.
 Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya…”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.
 Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.
Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.
Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.
Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.
Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan….”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”
Pada malam tanggal 9 Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.
Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW .
Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.
Maka, pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan. Tiba-tiba wanita pertama datang dan berkata kepada Sayyidah Aminah;
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Baginda Nabi Muhammad SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawwa’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu….
Kemudian Ibu Hawwa’ duduk di samping kanan Sayyidah Aminah. Dan mendekat lagi wanita yang kedua kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya;
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah SWT kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan para kekasihnya Allah SWT. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As, aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”
Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah. Maka, wanita ketigapun kemudian mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya;
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih Allah SWT yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh makhuk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu”.
Kemudian sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah. Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira;
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang dianugerahi Allah SWT berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa, Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk Beliau semata segala bentuk Sholawat (Rahmat Ta’dhim) Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS. Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah. Maka, keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasulullah Muhammad SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah SWT limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.
Detik berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh Beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.
Maka, detik berikutnya adalah Allah SWT perintahkan kepada Malaikat Ridlwan penjaga sorga agar mengomando semua bidadari sorga supaya berdandan rapi cantik jelita dan memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkotakan emas, intan permata yang gemerlapan dan menebarkan wewangian sorga yang harum semerbak ke segala arah demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya, Allah SWT limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril AS untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah SWT, Firman Allah SWT kepadanya;
يا جبريل صف راح الأرواح في أقداح الشراب يا جبربل انشر سجادات القرب والوصال لصاحب النور والرفعة والإتصال يا جبريل مر مالكا أن يغلق أبواب النيران يا جبريل قل لرضوان أن يفتح أبواب الجنان يا جبريل البس حلة الرضوان يا جبريل اهبط إلى الأرض بالملائكة الصافين والمقربين والكروبيين والحافين يا جبريل ناد في السموات والأرض في طولها والعرض قد آن أوان اجتماع المحب بالمحبوب والطالب بالمطلوب
Yang artinya kurang lebih;
“Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, para Rasul dan para Wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurb dan Al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang memiliki Nur dan Maqam luhur di Sisi-Ku. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Ridlwan agar membuka seluruh pintu sorga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah Ar-Ridlwan (pakaian khusus yang diliputi Keridloan-Ku) demi menyambut Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arasy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan mengagungkan kedatangan Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya …Sekarang telah tiba saatnya kedatangan Nabi akhir zaman, Nabi Agung kekasih Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad SAW ………….
Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril AS secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah SWT tersebut. Serentak Beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung Makkah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa. Dan saat itu pula seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Ibunda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah berkata; Saat itu pula, dengan ijin Allah SWT, bisa terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat. Yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’bah Baitullah. Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti. Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku. Setelah itu mereka serentak memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT. Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian sorga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan sholawat dan salam kepada Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW. Seketika itu pula aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah, dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata. Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Seketika aku meminumnya, dan terasa nikmat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu, dan kesejukkannya melebihi salju (es). Maka seketika lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seketika cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian, datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku. Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Seketika lahirlah Nabi Agung akhir zaman, Kekasih Allah SWT yang sempurna, Rasulullah Muhammad SAW, dan saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung. Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Muhammad SAW) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba ke hadirat Allah SWT dengan mengangkat jari telunjuknya. Dan saya mendengar Beliau Rasulullah SAW mengucapkan ;
ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
……….”Allah Maha Besar dengan segala Keagungan-Nya, Segala Puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya………”
Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari sorga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan Sholawat Ta’dhim kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan bahkan Ka’bah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy hal 192 dan 193 ;
فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا
Yang artinya kurang lebih;
“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan;
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر أستغفر الله
Yang artinya kurang lebih;
“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT..”
Sesungguhnya dengan keagungan Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.
Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluknya Allah SWT bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.
Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data-datanya dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi Lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam. Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar ‘Jalaaluddiin’ yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.
Bukan hanya dari kitab Beliau saja kami menukil, namun juga dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Aalam Lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar Lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghurar Lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ Lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siirah An-Nabawiyyah Lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy, Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy…dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).
Sumber: Kitab Nurul Musthofa Jilid 1, Habib Murtadho bin Abdullah bin Ahmad Al-Kaff


Kamis, 02 Januari 2014

Ketika Jilbab Menjadi Kambing Hitam

Ketika Jilbab Menjadi Kambing Hitam

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ...

“Aku paling gak suka liat cewe pake jilbab bermesra mesran sama pacarnya” ..

“Sama aku juga .. mending gak usah pake jilbab aja sekalian” ..
“Bener tuh ... daripada pake jilbab tapi kelakuan kayak gitu” ..

Sering sekali kita mendengar teman-teman kita mengucapkan kata-kata seperti itu .. terutama mereka yang belum mengenakan jilbab ...

Sungguh malang sekali nasib jilbab itu ..yang salah orangnya .. tapi jilbabnya pun ikut di hujat ...

Yang lebih miris lagi mereka mengatakan ..“mending gak usah pake jilbab daripada kelakuan buruk” ...

Sudah tidak memakai jilbab .. plus kelakuan buruk kok dibilang mending ..?? Itu artinya menurut mereka perbuatan tercela itu pantas untuk dilakukan asal tidak memakai jilbab ...

Bukankah perbuatan tercela itu tetap dosa dilakukan oleh manusia siapapun dia .. tak peduli dia kaya .. miskin .. laki laki .. perempuan .. memakai jilbab ataupun tidak .. besarnya dosa yang mereka lakukan pun sama .. hukuman yang mereka terimapun juga sama ...

Lantas bagaimana mereka bisa berkata seperti itu ..??

Manusia tak ada yang sempurna .. Begitupun semua perempuan yang memakai jilbab ... mereka juga hanyalah manusia biasa tempat khilaf dan lupa ...

Tak ada tuntutan jilbab itu hanya boleh dipakai oleh mereka yang telah sempurna akhlaknya ...

Bukankah sudah jelas bahwa jilbab wajib dikenakan semua perempuan islam yang sudah baligh seperti wajibnya shalat ..
tak perduli sifat seperti apa yang mereka miliki ... Tapi sungguh masih ada saja sebagian orang yang menganggap memakai jilbab itu hanya sunnah ....
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu .. anak-anakmu yang perempuan dan isteri-isteri orang mu’min ... “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ”... yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal .. karena itu mereka tidak diganggu .. .Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (Al-Adzhab :59)..

Janganlah jilbabnya yang di hujat .. tapi ingatkanlah mereka ...
Nasehatilah mereka jika kita tahu perbuatan yang mereka lakukan itu salah ...

Dan tidak harus sempurna dulu atau harus memakai jilbab untuk bisa mengingatkan saudara kita yang salah ....

Namun alangkah baiknya jika kita berjilbab sehingga nasehat pun didengar oleh mereka ... Bukankah saling mengingatkan sesama saudara muslim itu mendapat pahala ..??

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang ...

Ketika itu yang terjadi .. maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa ... Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka ... Keinginan kita menuju surga dan ridha-Nya akan sirna ...

… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Kisah Perdebatan Nabi SAW Dengan Pemuka Nasrani

Kisah Perdebatan Nabi SAW Dengan Pemuka Nasrani

majalah hidayah edisi 81 mei 2008

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkanmu), maka katakanlah (kepadanya), ‘Mari kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian mari kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta’.” (QS. Ali Imran: 61)

Perkembangan agama Islam di jazirah Arab bisa dikata serupa cahaya. Tak pelak, kalau seiring perjalanan waktu, sejak nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama Islam di tengah kejahiliyahan kaum kafir dan kaum musyrik ternyata agama Islam seperti cahaya matahari yang melesat cepat menerangi permukaan bumi. Agama Islam bisa memikat penduduk Arab karena agama Islam telah memancarkan cahaya terang kepada manusia dari kegelapan sebuah zaman. Apalagi, perilaku (karakter) nabi yang jujur, berbudi luhur dan rendah hati, tak bisa disangkal lagi telah mendukung nilai-nilai ajaran agama Islam yang ditegakkan oleh Rasulullah.

Alhasil, Islam pun menawarkan harapan baru dan janji akan masa depan yang cemerlang. Serupa matahari yang menerangi bumi, Islam pun menerangi jiwa dan hati manusia untuk tak tersesat dalam kegelapan. Tak salah, meski pun kaum kafir Quraisy tak henti-henti menentang, menghujat dan memusuhi nabi, ternyata Islam tak menjadi pudar dan padam, tapi justru mampu menunjukkan kelebihan akan nilai-nilai hidup yang memang layak untuk dipeluk.

Menyulut Kecemburuan
Seiring perjalanan waktu, cahaya Islam itu melesat, berkembang dan bahkan maju dengan cepat. Apalagi, setelah nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dan nilai-nilai agama Islam yang dibawa rasul mengajarkan kebajikan dan kebaikan bagi penduduk Madinah. Maka satu per satu penduduk di jazirah Arab mulai tertarik untuk memeluk agama baru (Islam) itu, tak terkecuali warga di wilayah luar Makkah dan Madinah. Bahkan agama Islam mampu menerobos ke wilayah Najran. Padahal, Najran merupakan kawasan Hijaz yang sebagian besar penduduknya selama bertahun-tahun telah memeluk dengan setia dan fanatik terhadap agama Nasrani.

Tetapi keagungan Islam ternyata bisa meluruhkan hati penduduk Najran. Kemuliaan Islam, seperti tak bisa disangkal untuk tidak dipeluk. Rupanya agama Islam telah memikat penduduk Najran untuk meninggalkan kepercayaan lama kemudian memeluk Islam dengan penuh kesadaran. Bahkan penyebaran Islam di Najran itu, seiring bergantinya hari semakin luas dan nyaris tak bisa dibendung lagi. Maka tak mustahil lagi, jika pemuka-pemuka Nasrani seperti tersulut bara api. Tak ada alasan bagi para pemuka Nasrani untuk tak digelayuti rasa benci dengan agama Islam selain karena rasa cemburu dan sebongkah perasaan tak senang lantaran agama Islam dipandang telah menggerongoti kepercayaan orang-orang Nasrani Najran.

Tetapi, ketidaksenangan pemuka-pemuka Nasrani itu tidak diungkapkan secara langsung dengan cara terang-terangan. Berbeda dengan kaum Yahudi yang dengan berani dan terang-terangan mengingkari janji, gemar membuat onar, menyebarkan desas-desus yang bohong, melancarkan tekanan ekonomi terhadap kaum Muslim, bahkan berkomplot dengan musuh-musuh Islam (seperti kaum Quraisy) untuk menyerang dan menghancurkan agama Islam. Meski pun kedua golongan itu sama-sama tidak senang dengan perkembangan agama Islam, anehnya kaum Nasrani Najran menunjukkan sikap yang lentur dan secara sembunyi-sembunyi ternyata memendam rasa cemburu di lubuk hati mereka yang paling dalam hanya di permukaan saja menampilkan sikap yang lunak.

Sikap lunak –meski dalam hati dicekam rasa cemburu-- yang ditunjukkan kaum Nasrani itu, tentunya bukan satu hal yang aneh. Lantaran kaum Nasrani telah mengetahui bahwa uskup-uskup mereka (seperti Waraqah bin Naufal di Hijaz dan Bahira di Syam) adalah dua tokoh Nasrani yang mengenal baik akan ciri-ciri Muhammad yang memang tak lain dan tak bukan adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh seorang Rasul. Tetapi, rasa cemburu itu tidak bisa dielakkan dan tak bisa diubah menjadi simpati. Apalagi, sudah jelas-jelas ada perbedaan antara kepercayaan kaum syirik (yang menyekutukan Tuhan) dan kaum yang teguh bertauhid (mengesakan Tuhan) memang tidak bisa diserasikan.

Tak pelak lagi, kalau kaum Nasrani Najran -khususnya para pemukanya–dengan cara yang halus dan bahkan sembunyi-sembunyi kemudian berusaha keras untuk mencegah dan menghalangi perkembangan Islam di Najran. Tapi sayangnya usaha pemuka-pemuka Nasrani itu seperti membentur tembok. Islam seperti tak dapat dibendung. Islam telah mematik hati penduduk Najran.

Tak kuasa mencegah perkembangan Islam yang kian hari berkembang dan memikat penduduk daerah Najran, apalagi sebagian penduduk yang tidak beragama Nasrani pun juga tertarik dengan Islam, maka para pemuka Nasrani Najran mulai dibuat gelisah dan dicekam rasa takut akan masa depan agama Nasrani. Maka, pemuka-pemuka Nasrani itu tak menemukan jalan lain lagi untuk menghalangi perkembangan agama Islam, dan mereka kemudian menempuh jalan lain mengadu “kebenaran” dengan cara menantang debat nabi untuk menentukan kebenaran agama yang diridhai oleh Allah di antara agama Islam dan Nasrani itu.

Dengan keputusan itu, maka akhirnya kaum Nasrani mengirimkan utusan ke Madinah untuk menemui nabi dan berniat bulat untuk beradu argumen guna membuktikan kebenaran antara agama keduanya.

Menantang Debat
Utusan dari kaum Nasrani Najran itu dipimpin oleh tiga orang terkemuka Najran, yakni Al-Aqib, Muhsin dan seorang oleh seorang uskup agung dengan diiringi pula dua orang Yahudi terkemuka. Utusan itu datang menemui Nabi di Madinah. Kedatangan utusan Nasrani Najran itu tidak ada maksud lain, kecuali untuk mendebat dan menantang nabi beradu argumen.

Setelah sampai di Madinah, utusan kaum Nasrani Najran itu kemudian menemui Rasul. Di depan nabi, sang uskup langsung mengajukan pertanyaan,” Wahai Abul Qasim (yang tak lain merupakan sebutan untuk nabi Muhammad), siapakah ayah nabi Musa?”

Nabi pun menjawab dengan sopan dan lembut, “Imran.”

Lalu, sang uskup itu bertanya lagi, “Lalu, siapakah ayah Yusuf?”

“Ya`qub,” jawab nabi tanpa ragu.

Sang uskup itu kemudian melanjutkan pertanyaan, “Semoga aku menjadi penebus bagi Anda. Lalu, siapakah ayah Anda?”

Nabi menjawab dengan tegas, “Abdullah bin Abdul Muththalib.”

Sang uskup itu bertanya lebih lanjut, “Siapakah ayah Isa?”

Sejenak Rasulullah diam. Wahyu dari Allah kemudian turun kepada nabi Muhammad, “(Katakan) ia ruh Allah dan kalimat-Nya.”

Sang uskup lalu bertanya lagi, “Dapatkah ia menjadi ruh tanpa memiliki tubuh?”

Lagi-lagi sebuah wahyu disampaikan pada nabi Muhammad SAW. Dan wahyu itu berbunyi, “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia’.” (QS. Ali Imran: 59)

Usai mendengar jawaban itu, sang uskup mengajukan keberatan pada nabi --yang mengatakan bahwa Isa as diciptakan dari tanah. Sementara, Rasul tak sedikitpun ragu karena nabi Muhammad menyandarkan kebenaran itu dari wahyu, “Kebenaran (mengenai Isa) itu datang dari Allah, Tuhanmu. Karena itu, janganlah termasuk orang yang ragu.” (QS. Ali Imran: 60)

Sang uskup lalu berkata, “Muhammad, kami tidak menemukan ini ada di dalam Taurat, Injil atau pun Zabur. Engkaulah orang pertama yang mengatakan tentang hal ini.

Seketika itu nabi mendapat wahyu dari Allah yang berbunyi, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkanmu), maka katakanlah (kepadanya), ‘Mari kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian mari kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta’.” (QS. Ali Imran: 61)

Setelah mendengar ayat tersebut, para utusan itu ternyata tak mau kalah dan berkata, “Tetapkanlah bagi kita sebuah rapat yang khitmad (yang mana setiap pihak bermohon pada Allah untuk mengutuk pihak yang lain jika mereka pendusta).”

“Esok pagi –insyaallah,” jawab nabi.

Peristiwa Mubahalah
Malam akhirnya berlalu, dan hari kemudian berganti menjadi pagi.

Di pagi itu, nabi Muhammad menunaikan shalat subuh lalu menyuruh Ali untuk mengikuti beliau. Bersama itu pula, Fatimah menggamit Hasan dan Husain untuk mengikuti Ali. Sebelum berangkat, Nabi sempat memerintahkan kepada mereka, “Ketika aku berdoa, kalian harus mengatakan, ‘Amin’.”

Nabi bersama ahlul bait kemudian menuju tempat yang sudah disetujui kedua belah pihak sebelumnya guna mengadakan mubahalah (kedua pihak berbeda keyakinan mau membuktikan kebenarannya masing-masing dengan bersumpah kepada Allah serta bersama memohon kepada-Nya agar melaknat (mengutuk) dan menimpakan bencana besar kepada pihak yang batil).

Bersamaan itu, utusan kaum Nasrani itu pergi bersama dengan beberapa keluarga mereka menuju tempat tersebut. Kedua kelompok (keluarga nabi dan keluarga utusan kaum Nasrani) itu kemudian berdiri dalam keadaan terpisah menghadap ke arah sebuah bukit yang terlihat agak jauh.

Setelah kedua pihak itu bertemu, utusan dari kaum Nasrani meminta nabi untuk mengikrarkan mubahalah lebih dulu. Nabi maju beberapa langkah dan mubahalah pun hendak diikrarkan. Tapi, tiba-tiba terjadi satu hal di luar dugaan. Langit yang semula menentramkan, tiba-tiba tampak mencekam dan di atas bukit pun tampak awan hitam yang bergumpal-gumpal, bahkan makin lama justru semakin berwarna merah menyala mirip bola api yang berkobar terang dan menyala-nyala hendak menghancurkan segala sesuatu yang berada di bukit. Awan yang bergumpal itu kemudian berlahan-lahan bergerak ke tempat mubahalah, di mana kedua belah pihak berdiri.

Setelah melihat warna langit yang tiba-tiba mencekam itu, sontak utusan dari kaum Nasrani merasa merinding dan dicekam rasa takut. Hati mereka pun digerus perasaan gelisah, jika laknat itu benar-benar menjadi kenyataan. Maka para utusan dari kaum Nasrani itu saling pandang, dan salah satu dari mereka berkata, “Demi Allah, dia itu nabi sejati dan jika dia mengutuk kita, niscaya Allah menjawab doanya dan menghancurkan kita semua. Maka, satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan kita semua di sini adalah memohon kepadanya agar melepaskan kita dari rapat ini”.

Uskup agung menimpali ucapan itu, lantaran di hatinya digelayuti rasa takut yang tak bisa dilawan, “Wahai kaum Nasrani, sungguh aku melihat wajah-wajah manusia yang jika mereka minta pada Allah mengerakkan gunung, Dia pasti akan melakukannya. Jangan adakan rapat ini atau kalian akan dihancurkan dan tak akan ada lagi orang Nasrani tinggal di bumi hingga hari kebangkitan.”

Utusan kaum Nasrani itu pun menghadap pada nabi. Utusan dari kaum Nasrani itu meminta kepada rasulullah untuk mengurungkan mubahalah sebab mereka semua dicekam ketakutan yang sungguh luar biasa. Tak terbayangkan dalam benak mereka semua, jika laknat dari Allah itu benar-benar akan datang dan menghanguskan tubuh mereka. Tak terbayangkan, jika ucapan nabi untuk mengutuk utusan kaum Nasrani itu kemudian menjadi kenyataan. Maka utusan kaum Nasrani itu kemudian memohon kepada nabi, “Abul Qasim, bebaskan kami dari rapat yang khidmat ini.”

Suasana di tempat mubahalah itu pun serasa mencekam. Nabi melihat dengan jelas wajah-wajah utusan dari kaum Nasrani itu dilanda perasaan takut dan cemas. Dari raut wajah mereka itu, Nabi tahu bahwa permohonan mereka itu adalah bentuk kekalahan yang telak. Maka nabi menjawab, “Sungguh akan aku lakukan, Dia yang mengirimku dengan kebenaran adalah Saksiku dan jika saja aku mengutukmu, Allah tak akan menyisakan seorang Nasrani pun di muka bumi.”

Nabi Muhammad akhirnya memenuhi permintaan utusan Nasrani untuk mengurungkan mubahalah dan membatalkan laknat Allah itu tiba. Tetapi nabi memperingatkan bahwa mereka akan tetap ditimpa laknat Allah kalau mereka tidak menyadari akan kesalahan mereka lantaran telah berani menantang nabi untuk melakukan mubahalah.

Tak ingin ditimpa laknat Allah, mereka pun merindukan untuk selamat dari bencana yang sangat menakutkan itu. Maka tidak ada pilihan lagi bagi utusan kaum Nasrani itu untuk tidak mengajukan ganti rugi pada kaum muslimin berupa beberapa ratus potong pakaian. Rasul menyetujui, tetapi masih menyertakan syarat agar mereka tak menghalangi dan mempersulit utusan nabi yang akan dikirim ke Najran untuk mendakwahkan Islam bagi penduduk Najran.

Sejak saat itulah, tak ada lagi halangan dan rintangan dari kaum Nasrani ketika utusan Rasulullah menyebarkan agama Islam ke daerah Najran. Islam lalu berkembang dengan pesat, membawa umat mausia dari kegelapan menuju cahaya.

Meninggal Dunia Usai Memimpin Doa Yasinan

Meninggal Dunia Usai Memimpin Doa Yasinan

cerita ini dimuat di majalah hidayah edisi 70, mei 2007

Kematian tidak dapat disangkal merupakan satu misteri yang tak dapat ditebak oleh siapa pun. Tak seorang pun yang tahu, kapan seseorang akan meninggal dunia. Juga, tidak ada yang tahu di mana seseorang nanti akan menemui ajal dan dalam keadaan apa kematian itu nanti akan datang menjemput. Karena itu, orang yang beruntung adalah yang menemui ajal ketika dia sedang menjalankan kebaikan, entah itu ketika sedang ada di majlis taklim atau sedang dalam sebuah pengajian yang mengingat kebesaran Allah, seperti akhir kisah dari orang yang akan kami ceritakan di bawah ini.
Cerita iktibar yang kami ceritakan ini –tepatnya-- terjadi di kampung Murten, Tridadi, kecamatan Sleman, Yogyakarta. Tidak ada keinginan yang pantas atau layak kami harapkan dari sepenggal kisah ini, kecuali harapan bahwa nantinya kisah ini bisa menjadi satu ibrah atau teladan bagi kita semua, agar dalam menjalani hidup ke depan bisa menjadi lebih baik. Selain itu, semoga kisah ini nanti juga selalu menjadi pengingat bagi siapa saja, karena kematian itu bisa datang kapan saja dan juga di mana saja, tanpa pernah bisa diduga!

Setiap orang pasti mendambakan kematian husnul khatiman. Makanya, mujurlah orang yang menemui ajal dalam keadaan husnul khotimah, semisal ketika sedang dalam pengajian sebagaimana kisah seorang yang meninggal usai membaca do`a yasinan yang dialami laki-laki tua bernama Mbah Dulkani (76 tahun) ini. Setelah memimpin doa dalam acara yasinan, beliau tiba-tiba “menutup mata” dengan tenang, tak berapa lama setelah acara pengajian yasinan tersebut berakhir. Awalnya, memang Mbah Dul hanya tersungkur atau jatuh ke pundak salah seorang yang ada di samping almarhum, tetapi tak diduga warga yang hadir di rumah Mbah Iman jika jatuhnya Mbah Dul (panggilan akrabnya) itu ternyata merupakan masa-masa kritis bagi almarhum.

/1/
Malam itu, Jum`at tanggal 04 Februari 2005. Langit gelap. Di cakrawala bahkan nyaris gulita, hanya ada percik cahaya bintang yang bersinar dengan redum. Bulan pun tak sedang purnama. Tapi di bawah kegelapan langit itu, tepatnya di kampung Murten, secercah cahaya terpancar dari sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah Mbah Iman (65 tahun). Persis di depan rumah tersebut, tampak lampu neon yang menyala dengan terang benderang di teras. Juga, ada beberapa lampu di dalam rumah yang menjadikan kegelapan malam hari hanya tampak di sudut-sudut pekarangan.

Maklum, jika di rumah Mbah Iman pada malam itu sedikit berbeda dan tampak terang benderang. Karena di rumah tersebut, sedang “dipersiapkan” untuk menyambut kedatangan warga kampung Murten yang akan melantunkan yasin. Pihak keluarga Mbah Iman punya hajat mengundang warga kampung untuk datang ke rumah tersebut guna mendoakan kesehatan Mbah Iman yang sudah lama diserang penyakit.

Memang, sudah menjadi satu kebiasaan di daerah kampung Murten dan juga di daearah-daerah yang lain kalau ada salah seorang dari keluarga yang kebetulan sedang menderita sakit agak parah, pihak keluarga si sakit kemudian mengadakan doa yasinan dengan mengundang kaum laki-laki di kampung tersebut. Dengan acara tersebut, pihak keluarga berharap agar Allah mengampuni segala dosa yang pernah diperbuat Mbah Iman se-masa masih sehat, agar lekas sembuh atau paling tidak penderitaannya bisa berkurang. Atau kalau memang Allah berkehendak lain, semoga segala penderitaan itu bisa lekas berakhir.

Malam itu, pihak keluarga Mbah Iman telah mengundang sejumlah warga untuk mendoakan Mbah Iman yang menderita stroke. Pasalnya, Mbah Iman sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Pihak keluarga sudah membawa Mbah Iman berobat ke rumah sakit berkali-kali tetapi tidak ada kemajuan yang berarti sehingga pihak keluarga kemudian memutuskan membawa pulang Mbah Iman dan malamnya meminta “bantuan” warga untuk datang ke rumah guna melantunkan surat yasin, dan juga berdoa bersama, guna kesembuhan Mbah Iman.

Dalam acara yasinan itu, pihak keluarga Mbah Iman pun bahkan sudah meminta bantuan kepada kaum (guru ngaji) di desa tersebut, yang bernama Mbah Dul dan beliau sudah berkenan datang memimpin doa yasinan di malam itu, sebagaimana pada malam sebelumnya.

Malam mulai merambat pelan, kian gelap. Maklum, waktu sudah menunjukkan pukul 19.50 WIB. Satu per satu, warga kampung Murten pun sudah datang ke rumah Mbah Iman untuk memenuhi undangan. Pihak keluarga juga menyambut satu per satu tamu undangan, dengan penuh pengharapan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, warga dari kampung itu telah berkumpul di rumah Mbah Iman. Hanya tinggal Mbah Dul saja yang kebetulan belum datang. Warga dengan sabar menunggu, karena kehadiran Mbah Dul itu cukup signifikan. Dengan kata lain, karena memang Mbah Dul sebagai pemimpin. Maka, setelah Mbah Dul datang tepat pukul 20.00 WIB dan tidak ada yang ditunggu lagi, acara itu pun segera dimulai. Mbah Dul datang dan segera memberikan perintah kepada salah seorang agar segera memulai pembacaan yasin.

Sejurus kemudian, acara dibuka dengan sambutan. Lalu, alunan bacaan yasin pun berkumandang dari rumah Mbah Iman. Hingga tak terasa lagi, sekitar setelah jam berlalu pembacaan Yasin itu selesai. Dan akhirnya pengajian ditutup dengan doa yang dibacakan Mbah Dul. Usai Mbah Dul berdoa, acara tersebut diteruskan dengan istirahat. Pihak keluarga Mbah Iman menyuguhkan sejumlah menu makanan. Warga kampung pun tak segan lagi menyantap makanan tersebut.

Usai makan, warga kampung kemudian berpamitan hendak pulang ke rumah masing-masing, termasuk Mbah Dul. Tapi belum sempat keinginan warga itu terpenuhi, ternyata hujan turun. Rintik-rintik hujan, membasahi tanah. Akibatnya, sebagian besar orang yang hendak pulang itu pun kemudian mengurungkan niat, memilih untuk tetap tinggal di tempat dan bercengkrama seraya menunggu hujan reda.

Mbah Dul yang tak jadi pulang pun terpaksa bercengkrama dengan Pak Tris ( 50 tahun) yang kebetulan duduk di sebelahnya, yang tidak lain sebagai pembantu kaum. Tidak dinyana-nyana lagi, antara kedua orang itu pun asyik bercengkrama dan bahkan sempat membicarakan keadaan di Aceh pasca-tsunami. Apalagi, saudara Mbah Dul ada yang berada di Aceh, dan menjadi korban tsunami yang belum lama itu bertandang ke rumah Mbak Dul. Ada juga satu keluarga, keponakan Mbah Dul yang meninggal di sana.

Tetapi di tengah-tengah pembicaraan itu, tiba-tiba Mbah Dul berhenti sejenak. Tubuhnya terlihat lunglai dan tanpa disangka-sangka oleh siapapun, ternyata Mbah Dul menjatuhkan kepalanya ke pundak Pak Tris yang berada di samping Mbah Dul. Tentu saja, Pak Tris terkejut bukan kepalang. Pak Tris juga kaget, terperangah dan nyaris tak mengira kalau kepala Mbah Dul jatuh di pundaknya. Maka, Pak Tris pun dengan sigap memeriksa kondisi Mbah Dul.

Karena Mbah Dul terlihat lunglai, tak berdaya dan tidak berkutik, maka orang-orang yang hadir di pengajian itu bergerak cepat. Tidak dapat disadarkan, Mbah Dul terpaksa derebahkan di lantai. Kedua anak Mbah Dul –yang kebetulan ikut dalam acara pengajian yasinan itu segera mendekat dan membopong Mbah Dul. Dengan dibantu warga kampung yang lain, Mbah Dul segera dibawa ke mobil yang saat itu kebetulan ada salah satu anggota pengajian yasinan itu berinisiatif memanggil tetangga terdekat yang memiliki mobil.

Setelah Mbah Dul dimasukkan ke dalam mobil, dengan cepat mobil itu melaju ke rumah sakit. Dengan cekatan, warga yang mengantar kepergian Mbah Dul itu tidak mau dikejar dengan waktu. Maka setiba di rumah sakit, orang-orang yang membawa Mbah Dul itupun segera meminta Mbah Dul untuk ditangani. Tetapi, malang tak dapat dicegah. Setelah diotopsi, ternyata dokter menyatakan Mbah Dul sudah meninggal, bahkan meninggalnya Mbah Dul itu diperkirakan terjadi saat Mbah Dul masih berada di lokasi pengajian (di rumah Mbah Iman).

Kontan, kesedihan pun menerpa wajah orang-orang yang telah mengantar Mbah Dul ke rumah sakit itu. Wajah-wajah mereka langsung muram, air mata pun menitik di pipi para pengantar. Karena Mbah Dul sudah meninggal, maka tidak ada keinginan lain dari pihak keluarga selain segera membawa pulang Mbah Dul. Maka, pihak keluarga segera mengurus administrasi.

/2/
Setelah semua administrasi rumah sakit diurus, jenazah Mbah Dul bisa dibawa pulang. Setiba di rumah, sontak suara tangis kerabat dekat Mbah Dul yang menyambut kedatangan jenazah seperti tidak bisa terbendung lagi. Tangis mereka semua seakan menjadi bukti sebuah kesedihan yang tidak bisa ditampung. Maka, air mata dari pihak keluarga pun berlinang, derai air mata itu tumpah dan menyiratkan kesedihan yang berat . Karena di mata mereka, Mbah Dul itu orang yang tidak bisa tergantikan. Tidak ada keraguan lagi kalau ditinggal orang yang selama ini dicintai dan disayangi, adalah sebuah kesusahan yang tidak terkira.

Karena hari sudah malam, maka jenazah Mbah Dul belum segera diurus. Pihak keluarga masih berunding, dan akhirnya memutuskan bahwa jenazah Mbah Dul akan disemayamkan pada siang esok hari.

Ketika esok hari tiba, dari pagi warga sudah berdatangan takziyah. Karena Mbah Dul orang yang cukup dipandang di kampung Murten maka warga berduyung-duyung ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Mbah Dul. Sampai hari menjelang siang, Mbah Dul pun segera diurus untuk dimandikan, dikafani dan dishalati. Setelah jenazah Mbah Dul siap, maka pihak keluarga melepas kepergian Mbah Dul.

Iringan-iringan para pelayat akhirnya memberangkatkan almarhum ke tempat pemakaman umum yang terletak tidak jauh dari rumah almarhum. Kepergian Mbah Dul yang tidak terduga itu, jelas membuat keluarga dan warga kampung merasa sedih. Dari raut wajah mereka semua, kesusahan itu terlihat dengan jelas. Maklum, karena tak bisa dimungkiri kalau mereka semua merasa kehilangan atas kepergian seorang kaum yang baik. Mbah Dul memang sudah tua, tetapi warga sungguh tidak menduga kalau Mbah Dul akan pergi secepat itu, meninggal dengan tiba-tiba setelah beliau memimpin doa yasinan di rumah Mbah Iman.

Dalam pemakaman itu, tidak ada “aral” yang melintang. Pemakaman berjalan lancar. Mungkin kalau ada satu hal yang membuat mereka harus mengenang dan tak bisa begitu saja lupa adalah rasa kehilangan orang seperti Mbah Dul. Tapi kesedihan itu pasti akan cepat terhapus dan bahkan tergantikan dengan sebuah harapan untuk tidak hanyut di dalam suasana duka yang berlarut-larut karena saat ajal itu menjemput Mbah Dul, beliau usai memimpin doa yasinan, sebagai pertanda sebuah kematian yang husnul khatimah.

Akhirnya, orang-orang yang mengantar kepergian Mbah Dul pulang. Ada rasa sedih, tetapi teladan dan kebaikan Mbah Dul jelas tak bisa mereka lupakan…

/3/
Maklum saja, kalau semua warga Murten, Tridadi dan juga pihak keluarga susah untuk melupakan sosok Mbah Dul. Sebab Mbah Dul itu dikenal baik. Seperti penuturan narasumber Hidayah, sepanjang hidupnya, Mbah Dul dikenal warga kampung sebagai seorang baik, murah senyum dan banyak menolong orang. Apalagi Mbah Dul sebagai kaum kampung Murten.

Selain dikenal baik dalam menjalin hubungan sosial dengan warga kampung, Mbah Dul termasuk religius. Beliau tak diragukan lagi dikenal oleh warga sebagai orang yang rajin beribadah. Bahkan yang membuat banyak orang iri, walau sudah terbilang tua, ternyata Mbah Dul itu tak pernah absen datang ke masjid. Padahal, jarak rumah Mbah Dul dengan masjid lumayan jauh (kira-kira berjarak 300 meter) tetapi jarak itu tak menyurutkan semangat Mbah Dul untuk beribadah ke masjid. Bahkan dalam keadaan sakit, semisal demam, hal itu tak menjadi halangan.

Pernah anaknya menasehati beliau. “Jika memang demam atau sakit lebih baik shalat di rumah!” sebagaimana diceritakan Dwi Istiati menirukan nasehat anak Mbah Dul. Tetapi, Mbah Dul menolak. Mbah Dul selalu berkata, “Jika memang sakit tapi kaki ini masih kuat berjalan, lebih baik shalat di masjid karena itu amalan yang utama.”

Mbah Dul baru shalat di rumah, jika sedang betul-betul sakit. Sempat memang suatu ketika Mbah Dul mendapat serangan gejala stroke. Dalam keadaan itulah, beliau baru mau melaksanakan shalat di rumah.

Satu hal lagi, Mbah Dul dikenal sebagai orang yang tekun bekerja. Sebelum meninggal, beliau masih tekun pergi ke sawah, membantu anaknya mencari rumput dan mengasuh cucu-cucunya. Karena itulah, kepergian Mbah Dul itu membuat warga prihatin.


BOX
Dwi Istiarti (22 tahun), kerabat Mbah Dulkani
“Mbah Dul itu rajin shalat Berjama`ah”

Sebetulnya, pihak keluarga Mbah Dul tidak mempunyai firasat apa-apa. Maka, kepergian beliau itu membuat kami semua sedih. Memang, sebelum meninggal, beliau itu terserang diare, tapi masih dalam taraf yang ringan. Artinya, tidak cukup parah dan mengganggu. Karena itu, saat beliau meninggal tiba-tiba, di rumah Mbah Iman sehabis memimpin yasinan, jelas membuat orang-orang panik.

Orang-orang yang hadir sudah berusaha menolong, dengan cepat membawa ke rumah sakit. Tetapi ternyata Mbah Dul sudah dipanggil oleh Allah. Akhirnya, tidak ada yang kami harapkan selain sebuah doa semoga Allah mengampuni Mbah Dul. Selain itu, semoga sosok Mbah Dul dapat menjadi “teladan” bagi kita semua untuk termotivasi berbuat baik, juga rajin ke masjid dan berjiwa sosial. Semoga kisah ini bermanfaat bagi pembaca semua.

Leher Membengkak Sebelum Ajal Menjemput

Leher Membengkak Sebelum Ajal Menjemput

tulisan ini dimuat di majalah hidayah edisi 72 juli 2007

Barangsiapa mendatangi dukun dan percaya kepada ucapannya, maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad SAW (HR. Abu Daud)

Dahulu, dia dikenal warga kampung Salak (bukan nama sebenarnya) sebagai orang yang cukup terhormat. Tapi kehormatan yang ia bangun itu bukan bertumpu pada ilmu, melainkan berlandas materi (harta). Maka tatkala dia tidak lagi memiliki semua itu (kekayaan) dan jatuh dalam lubang kemiskinan, fondasi yang dia banggakan itu dalam sekejam pupus di mata warga kampung Salak. Ia tidak saja jadi miskin, tak lagi memiliki wibawa tetapi juga kemudian dipandang sebelah mata.

Maklum, rumah megah dan besar yang sempat ia miliki tak lagi ada. Ia tinggal di rumah jelek. Ia juga tak lagi memiliki tambak sebagai sumber mata pencaharian, melainkan bekerja dengan menjual pisau. Tak lagi hidup makmur, tidak lagi punya istri muda cantik. Lebih tragis, saat ajal menjemput, ia mengalami kesakitan yang cukup pedih. Lehernya bengkak.

Perjalanan hidup Waluyo (60 tahun, bukan nama sebenarnya) yang sempat menjadi kaya lantas jatuh miskin itulah yang akan kami ceritakan dalam edisi kali ini. Demi menjaga muru`ah (nama baik) keluarga, terpaksa nama tokoh dan tempat kejadian kami samarkan.

Penderitaan Waluyo
Lima tahun yang lalu, penderitaan Waluyo bisa dibilang lengkap. Sudah jatuh, masih tertimpa tangga. Ia jatuh miskin dan harus menerima kenyataan pahit. Ketika ia di ujung senja, 60 tahun, tidak lagi hidup mewah dan tak memiliki kekayaan melimpah, penyakit aneh tiba-tiba menyerang. Awalnya, ia merasa perutnya mules atau hanya sebah biasa. Karena itu, ia yang terbaring di ranjang dan memegangi perutnya yang melilit-lilit segera menyuruh sang istri, Saliyem (52 tahun, bukan nama sebenarnya) untuk beranjak pergi membeli obat sakit perut.

Tak tega melihat derita yang harus ditanggung sang suami, Saliyem cepat-cepat beranjak dari sisi ranjang. Ia membeli obat sakit perut dan tak lama kemudian pulang dengan membawa satu harapan agar suaminya sembuh. Maka, dengan segera ia menyuapi sang suami beberapa suapan nasi dan setelah itu memberi obat yang baru dibeli tersebut untuk diminum Waluyo. Dalam hatinya, Saliyem berdoa agar suaminya cepat pulih dan sehat kembali.

Tapi, setelah meminum obat itu bukannya Waluyo sembuh dan bisa berdiri dari ranjang, justru esok harinya, Waluyo merasakan perutnya kian didera rasa sakit yang tidak karuan. Mules-muleh, mual, melilit-lilit bahkan sebentar-sebentar muntah dan buang air besar. Kepala Waluyo bahkan merasa pening dan pusing. Juga, badan terasa tidak lagi memiliki daya. Waluyo lemas dan nyaris tidak bertenaga.

Saat melihat sang suami tidak juga kunjung sembuh dan tambah runyam didera sakit, Saliyem bingung tujuh keliling. Maka, dia menyuruh Prapto --18 tahun, bukan nama asli--, anak keduanya untuk memanggil pak mantri di kampung Salak. Hari itu juga (tepatnya sore hari), pak mantri menyempatkan datang ke rumah Waluyo setelah dia berdinas dari puskesmas. Pak mantri pun segera memeriksa perut Waluyo. Dari pemerikasaan itu, ia menyimpulkan Waluyo sakit diare. Waluyo pun diberi obat.

Obat dari pak mantri itu jelas menjadi satu harapan bagi Waluyo untuk bisa sembuh. Maklum, Waluyo hanya mengandalkan obat dari pak mantri karena untuk berobat ke rumah sakit, ia takut dengan biaya yang harus dikeluarkan, apalagi ia sudah tak lagi memiliki apa-apa. Karena itu, dia meminum obat tersebut siang itu juga dan ketika malam tiba, ia meminumnya lagi.

Malam berambat pelan, dan Waluyo merasakan sakit perut yang ia derita itu mulai berkurang. Meski masih mual, mules dan melilit, tetapi sudah agak mending. Waluyo sudah tak lagi buang air besar dan tak lagi muntah. Esoknya, Waluyo merasa sakit perutnya tak lagi parah. Waluyo bisa bernapas lega. Ia menarik napas panjang. Saliyem bisa kembali bekerja menjual jamu keliling. Tapi, kepulihan Waluyo itu ternyata cuma sebentar.

Seminggu kemudian, Waluyo kembali merasakan perutnya mules, mual dan melilit. Seiring itu, tiba-tiba perutnya jadi besar. Pak mantri kembali dipanggil tapi tak lagi bisa membantu banyak. Seiring dengan bertambahnya hari, perut Waluyo kian membengkak. Lebih tragis, siang sampai malam, Waluyo mengerang kesakitan minta tolong. Istri Waluyo dan anak-anaknya panik. Tapi, apa yang bisa diperbuat keluarga Waluyo kalau uang tidak lagi ada dan rumah sakit menjadi seperti hantu yang menakutkan jika harus mengingat biaya yang akan dikeluarkan seandainya membawa Waluyo ke rumah sakit?

Sakit Parah
Jika Waluyo menderita sakit parah sekitar tiga puluh tahun yang lalu jelas persoalan akan lain. Keluarga Waluyo pasti dengan cepat, juga tanpa pikir panjang, akan membawa Waluyo ke rumah sakit. Maklum, tiga puluh tahun yang lampau, Waluyo dikenal warga kampung sebagai orang kaya. Ia memiliki tambak luas, rumah megah dan tak kurang materi. Bahkan, ia memiliki istri muda.

Tapi itu sudah lewat. Bahkan sebelum ia dikenal sebagai orang kaya dan memiliki tambak luas, ia juga bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang petani tambak udang, yang hanya memiliki 3 tambak yang tak seberapa luas. Bahkan tiga lahan tambak itu pun merupakan warisan dari orangtua Waluyo. Dengan tekun, ia menggarap tiga tambak yang ia miliki namun seiring perjalanan waktu bukan panen melimpah yang ia dapat melainkan tumpukan utang. Karena untuk menanam benih itu ia harus utang dan jika hasil panen tak menggemberikan, maka bukan keuntungan yang ia dapat, melainkan beban utang.

Bertahun-tahun mengelola tambak, Waluyo tidak juga kunjung kaya. Padahal, sebagian warga ada yang sudah berhasil mengelola tambak dan mendapat hasil panen yang melimpah sehingga memiliki tambak luas, rumah megah dan hidup sejahtera. Tak kuat menderita dengan beban utang dan juga rasa iri melihat keberhasilan orang, Waluyo mencari jalan pintas. Dia datang ke dukun mengambil pesugihan.

Setelah datang ke dukun, pelan-pelan Waluyo bisa melunasi utang. Seiring itu --sebagaimana diceritakan oleh Ngali (24 tahun, bukan nama asli)-- Waluyo mulai menuai hasil dari panen tambak. Dari keuntungan yang ia dapat, ia lalu membelikan tambak. Akhirnya, ia memiliki tambak yang luas dan dari tambak yang luas itu, Waluyo bisa membangun rumah yang megah.

Tidak itu saja! Seiring dengan melimpahnya materi, uang yang ia punya dan kekayaan, dia pun menikah lagi. Tidak salah, jika Waluyo pada masa itu hidup dengan kemewahan, memiliki rumah megah dan dapat memilih pulang ke rumah istri kedua jika rasa capek melanda sehabis pulang dari tambak.

Tetapi, masa kejayaan itu sudah berlalu. Ia lalu miskin, sakit dan tak bisa berbuat apa-apa!

Tipis Harapan
Kembali, pak mantri dipanggil, meski harapan itu tipis, karena pak mantri sudah menyarankan keluarga Waluyo untuk membawa ke rumah sakit. Tetapi apa daya keluarga Waluyo jika sudah tidak ada uang lagi. Maka, hanya berharap pada pak mantri. Bukan mustahil, kedatangan pak mantri pun sekedar memeriksa dan kembali memberi obat yang tak berbeda dengan yang ia berikan pada saat sebelumnya. Karena pak mantri tahu, dia sudah tidak sanggup menangani Waluyo yang dia ketahui seperti terserang penyakit aneh.

Tidak ada perkembangan dengan penyakit yang diderita Waluyo, pihak keluarga memilih jalan lain --mendatangi orang pintar. Entah diberi ramuan apa, setelah keluarga mendatangi orang pintar itu, perut Waluyo berangsur-angsur kecil. Tetapi, ada hal aneh. Setelah perut Waluyo itu mengecil, tiba-tiba dadanya membengkak. Dengan bengkak itu, Waluyo semakin menderita dan sebentar-sebantar meminta tolong. Siang dan malam, Waluyo menjerit-jerit. Keluarga kembali tidak punya pilihan lain, mendatangi orang pintar kembali.

Akhirnya, lambat laun dada Waluyo kempes. Tetapi, lagi-lagi hal aneh harus membuat Waluyo tidak bisa bersuara kecuali menjerit kesakitan karena setelah dadanya mengecil, berganti lehernya yang membengkak. Rasa sakit pun mendera Waluyo. Bahkan karena tak kuat menanggung sakit itu, terbersit permintaan putus asa dari mulut Waluyo akibat dirundung kesakitan. Dia meminta pihak keluarga untuk membunuhnya. "Setelah perutnya mengecil, berganti dadanya membesar dan saat dadanya itu mengecil, kemudian disusul lehernya yang membesar, dia meringis kesakitan, bahkan meminta dibunuh saja oleh salah satu keluarganya agar segera meninggalkan dunia," cerita Ngali kepada hidayah.

Tidak ada pihak keluarga yang tega melakukan keinginan Waluyo itu, dan kembali orang pintar dimintai bantuan. Tapi leher Waluyo masih membesar dan sakit yang diderita Waluyo tak juga kunjung sembuh, meski sudah berkali-kali keluarga datang ke orang pintas bahkan tak cuma satu orang pintar.

Setelah tak ada perkembangan, sejak delapan bulan Waluyo diserang penyakit aneh, dan hanya terbaring di ranjang, akhirnya pihak keluarga memanggil kiai. Akhirnya pak kiai itu datang (setiap hari) ke rumah Waluyo membaca ayat suci al-Qur`an. Seminggu kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir pada suatu malam yang menyedihkan, lima tahun lalu. Ia pergi meninggalkan istrinya (Saliyem) dan lima anak.

Pesugihan
Sudah menjadi rahasia umum warga kampung bahwa Waluyo kaya dari hasil pesugihan. Bukan mustahil kalau dulu ia miskin, artinya biasa-biasa saja dan bahkan menanggung banyak utang, lantas ia menjadi kaya dalam waktu yang singkat, maka warga menjadi tahu. Alasannya, ia diketahui oleh warga kerap datang ke dukun. Tapi, sebagaimana datangnya kekayaan Waluyo yang cepat, dalam waktu yang singkat pula ia tiba-tiba jatuh miskin. Warga pun tidak heran!

Dari cerita-cerita yang beredar di kampung Salak, Waluyo diketahui takut dengan akibat yang bisa didapatkan dari pesugihan itu. "Setelah Waluyo takut, akhirnya ia meninggalkan pesugihan itu dan tidak lagi pergi ke dukun", ujar Ngali. "Beberapa tahun kemudian, ia akhirnya jatuh miskin. Tambaknya yang luas mulai susut serta berangsur-angsur ludes. Lebih mengenaskan, rumahnya yang megah terjual dan dia mendiami rumah yang jelek. Istri mudanya pada akhirnya minggat meninggalkannya," lanjutnya ketika menceritakan perihal riwayat hidup Waluyo saat jatuh miskin.

Hingga akhirnya, karena Waluyo tak lagi memiliki mata pencaharian dan tambak sebagai lahan mencari uang, ia bekerja menjual pisau. Karena hasil yang ia dapat tak seberapa banyak, maka istrinya jualan jamu keliling. Tahun berlalu, usia Waluyo kian bertambah, hingga akhirnya dia diserang penyakit aneh. Mula-mula perutnya bengkak. Lalu dadanya membesar. Setelah dadanya mengecil kemudian ganti lehernya yang membesar hingga kemudian kematian menjemput Waluyo setelah ia meradang kesakitan, dan bahkan sempat minta untuk dibunuh karena tak kuat menangggung rasa sakit.

Leher Bengkak
Setelah jenazah Waluyo dirawat --dimandikan, dikafani dan dishalati--, esok harinya, jenazah diberangkatkan ke pemakaman umum kampung. Iring-iringan pengantar membawa jenazah orang yang dulu sempat kaya tapi kemudian jatuh miskin itu dengan iba. Maklum, warga tahu saat jenazah diantar ke tempat peristirahatan, tak ada yang dibawa sebagai bekal, kecuali amal dan perbuatan baik.

Setelah memasuki pintu pemakaman dan tak lama kemudian sampai di lubang kubur, keranda yang membawa jenazah Waluyo itu pun diletakkan. Jenazah Waluyo kemudian diambil dari keranda oleh empat orang pelayat dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Saat jenazah dimasukkan ke dalam liang itu, masih terlihat dengan jelas leher Waluyo bengkak. Tapi, apa mau dikata? Leher itu tidak bisa mengecil. Maka saat jenazah Waluyo dikuburkan, dan lehernya masih besar, meninggalkan perguncingan, bahkan hingga beberapa hari setelah orang-orang pulang dari pemakaman.

Semoga kisah ini bisa menjadi "pelajaran berharga" bagi kita semua untuk tak terlena dengan keinginan untuk jadi kaya, karena kekayaan itu hanya sarana hidup. Lebih penting dari itu, adalah amal dan perbuatan baik. Apalagi, kalau keinginan untuk kaya itu harus melupakan ajaran agama, datang ke dukun mengambil pesugihan. Padahal dukun itu manusia biasa dan rezeki hanya Allah yang punya bukan milik siapa pun. Juga, Allah Maha Kuasa. Jika Allah sudah menghinakan orang, maka tidak ada yang bisa menolak, termasuk Waluyo.

Ibarat pepatah, sudah jatuh masih tertimpa tangga. Itulah perjalanan hidup Waluyo karena dia dahulu kaya, lantas jatuh miskin kemudian masih ditambah lagi meninggal dengan cukup mengenaskan. Leher Waluyo membengkak saat ajal menjemput.

BOX
Ngali (24 tahun), tetangga almarhum
"Sudah Jatuh Miskin, Mati pun Susah"

Dulu, di kampung kami dia itu dikenal sebagai orang yang kaya. Dia memiliki tambak yang luas dan hidup makmur. Bahkan sempat memiliki dua istri. Tapi sayang, kekayaan yang ia miliki itu ternyata hasil dari pesugihan. Orang=orang di kampung, semua nyaris tahu kalau ia itu mengambil pesugihan dan sering ke dukun.

Akhirnya, ia merasa takut dengan apa yang diperbuat. Ia tak lagi ke dukun serta meninggalkan pesugihan. Lambat laun, kekayaan yang dia miliki akhirnya habis. Ia jatuh miskin. Karena jatuh miskin, istri muda meninggalkannya. Ia menjalani hidup penuh dengan kesengsaraan. Ia tak lagi punya tambak, rumahnya yang dulu megah berubah jadi jelak.

Untuk menyambung hidup, dia kemudian kerja menjual pisau dan istrinya jualan jamu. Hingga tahun berlalu, ia akhirnya menderita sakit aneh. Perutnya mendadak besar. Setelah perutnya mengecil, tiba-tiba dadanya jadi membesar. Setelah dadanya kempes, lalu disusul lehernya yang membesar.

Tak kuat menahan sakit yang diderita, ia merengek-rengek kesakitan. Bahkan karena cukup sakit, dia sempat meminta untuk "dibunuh" saja agar bisa terbebas dari derita. Dia lebih memilih meninggal dibunuh daripada menanggung kesakitan.

Tetapi tak ada yang tega. Keluarga lalu memanggil seorang kiai. Alhamdulillah, setelah kiai itu mendoakan, tidak berapa lama kemudian ia meninggal. Tapi leher almarhum masih meninggalkan bekas derita yang ia tanggung. Leher almarhum tetap membesar, bahkan saat dikebumikan.