Leher Membengkak Sebelum Ajal Menjemput
tulisan ini dimuat di majalah hidayah edisi 72 juli 2007
Barangsiapa mendatangi dukun dan percaya kepada ucapannya, maka dia
telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad SAW (HR.
Abu Daud)
Dahulu, dia dikenal warga kampung Salak (bukan nama
sebenarnya) sebagai orang yang cukup terhormat. Tapi kehormatan yang ia
bangun itu bukan bertumpu pada ilmu, melainkan berlandas materi
(harta). Maka tatkala dia tidak lagi memiliki semua itu (kekayaan) dan
jatuh dalam lubang kemiskinan, fondasi yang dia banggakan itu dalam
sekejam pupus di mata warga kampung Salak. Ia tidak saja jadi miskin,
tak lagi memiliki wibawa tetapi juga kemudian dipandang sebelah mata.
Maklum, rumah megah dan besar yang sempat ia miliki tak lagi ada. Ia
tinggal di rumah jelek. Ia juga tak lagi memiliki tambak sebagai sumber
mata pencaharian, melainkan bekerja dengan menjual pisau. Tak lagi
hidup makmur, tidak lagi punya istri muda cantik. Lebih tragis, saat
ajal menjemput, ia mengalami kesakitan yang cukup pedih. Lehernya
bengkak.
Perjalanan hidup Waluyo (60 tahun, bukan nama
sebenarnya) yang sempat menjadi kaya lantas jatuh miskin itulah yang
akan kami ceritakan dalam edisi kali ini. Demi menjaga muru`ah (nama
baik) keluarga, terpaksa nama tokoh dan tempat kejadian kami samarkan.
Penderitaan Waluyo
Lima tahun yang lalu, penderitaan Waluyo bisa dibilang lengkap.
Sudah jatuh, masih tertimpa tangga. Ia jatuh miskin dan harus menerima
kenyataan pahit. Ketika ia di ujung senja, 60 tahun, tidak lagi hidup
mewah dan tak memiliki kekayaan melimpah, penyakit aneh tiba-tiba
menyerang. Awalnya, ia merasa perutnya mules atau hanya sebah biasa.
Karena itu, ia yang terbaring di ranjang dan memegangi perutnya yang
melilit-lilit segera menyuruh sang istri, Saliyem (52 tahun, bukan nama
sebenarnya) untuk beranjak pergi membeli obat sakit perut.
Tak tega melihat derita yang harus ditanggung sang suami, Saliyem
cepat-cepat beranjak dari sisi ranjang. Ia membeli obat sakit perut dan
tak lama kemudian pulang dengan membawa satu harapan agar suaminya
sembuh. Maka, dengan segera ia menyuapi sang suami beberapa suapan nasi
dan setelah itu memberi obat yang baru dibeli tersebut untuk diminum
Waluyo. Dalam hatinya, Saliyem berdoa agar suaminya cepat pulih dan
sehat kembali.
Tapi, setelah meminum obat itu bukannya Waluyo
sembuh dan bisa berdiri dari ranjang, justru esok harinya, Waluyo
merasakan perutnya kian didera rasa sakit yang tidak karuan.
Mules-muleh, mual, melilit-lilit bahkan sebentar-sebentar muntah dan
buang air besar. Kepala Waluyo bahkan merasa pening dan pusing. Juga,
badan terasa tidak lagi memiliki daya. Waluyo lemas dan nyaris tidak
bertenaga.
Saat melihat sang suami tidak juga kunjung sembuh
dan tambah runyam didera sakit, Saliyem bingung tujuh keliling. Maka,
dia menyuruh Prapto --18 tahun, bukan nama asli--, anak keduanya untuk
memanggil pak mantri di kampung Salak. Hari itu juga (tepatnya sore
hari), pak mantri menyempatkan datang ke rumah Waluyo setelah dia
berdinas dari puskesmas. Pak mantri pun segera memeriksa perut Waluyo.
Dari pemerikasaan itu, ia menyimpulkan Waluyo sakit diare. Waluyo pun
diberi obat.
Obat dari pak mantri itu jelas menjadi satu
harapan bagi Waluyo untuk bisa sembuh. Maklum, Waluyo hanya mengandalkan
obat dari pak mantri karena untuk berobat ke rumah sakit, ia takut
dengan biaya yang harus dikeluarkan, apalagi ia sudah tak lagi memiliki
apa-apa. Karena itu, dia meminum obat tersebut siang itu juga dan ketika
malam tiba, ia meminumnya lagi.
Malam berambat pelan, dan
Waluyo merasakan sakit perut yang ia derita itu mulai berkurang. Meski
masih mual, mules dan melilit, tetapi sudah agak mending. Waluyo sudah
tak lagi buang air besar dan tak lagi muntah. Esoknya, Waluyo merasa
sakit perutnya tak lagi parah. Waluyo bisa bernapas lega. Ia menarik
napas panjang. Saliyem bisa kembali bekerja menjual jamu keliling. Tapi,
kepulihan Waluyo itu ternyata cuma sebentar.
Seminggu
kemudian, Waluyo kembali merasakan perutnya mules, mual dan melilit.
Seiring itu, tiba-tiba perutnya jadi besar. Pak mantri kembali dipanggil
tapi tak lagi bisa membantu banyak. Seiring dengan bertambahnya hari,
perut Waluyo kian membengkak. Lebih tragis, siang sampai malam, Waluyo
mengerang kesakitan minta tolong. Istri Waluyo dan anak-anaknya panik.
Tapi, apa yang bisa diperbuat keluarga Waluyo kalau uang tidak lagi ada
dan rumah sakit menjadi seperti hantu yang menakutkan jika harus
mengingat biaya yang akan dikeluarkan seandainya membawa Waluyo ke rumah
sakit?
Sakit Parah
Jika Waluyo menderita sakit parah
sekitar tiga puluh tahun yang lalu jelas persoalan akan lain. Keluarga
Waluyo pasti dengan cepat, juga tanpa pikir panjang, akan membawa Waluyo
ke rumah sakit. Maklum, tiga puluh tahun yang lampau, Waluyo dikenal
warga kampung sebagai orang kaya. Ia memiliki tambak luas, rumah megah
dan tak kurang materi. Bahkan, ia memiliki istri muda.
Tapi
itu sudah lewat. Bahkan sebelum ia dikenal sebagai orang kaya dan
memiliki tambak luas, ia juga bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang petani
tambak udang, yang hanya memiliki 3 tambak yang tak seberapa luas.
Bahkan tiga lahan tambak itu pun merupakan warisan dari orangtua Waluyo.
Dengan tekun, ia menggarap tiga tambak yang ia miliki namun seiring
perjalanan waktu bukan panen melimpah yang ia dapat melainkan tumpukan
utang. Karena untuk menanam benih itu ia harus utang dan jika hasil
panen tak menggemberikan, maka bukan keuntungan yang ia dapat, melainkan
beban utang.
Bertahun-tahun mengelola tambak, Waluyo tidak
juga kunjung kaya. Padahal, sebagian warga ada yang sudah berhasil
mengelola tambak dan mendapat hasil panen yang melimpah sehingga
memiliki tambak luas, rumah megah dan hidup sejahtera. Tak kuat
menderita dengan beban utang dan juga rasa iri melihat keberhasilan
orang, Waluyo mencari jalan pintas. Dia datang ke dukun mengambil
pesugihan.
Setelah datang ke dukun, pelan-pelan Waluyo bisa
melunasi utang. Seiring itu --sebagaimana diceritakan oleh Ngali (24
tahun, bukan nama asli)-- Waluyo mulai menuai hasil dari panen tambak.
Dari keuntungan yang ia dapat, ia lalu membelikan tambak. Akhirnya, ia
memiliki tambak yang luas dan dari tambak yang luas itu, Waluyo bisa
membangun rumah yang megah.
Tidak itu saja! Seiring dengan
melimpahnya materi, uang yang ia punya dan kekayaan, dia pun menikah
lagi. Tidak salah, jika Waluyo pada masa itu hidup dengan kemewahan,
memiliki rumah megah dan dapat memilih pulang ke rumah istri kedua jika
rasa capek melanda sehabis pulang dari tambak.
Tetapi, masa kejayaan itu sudah berlalu. Ia lalu miskin, sakit dan tak bisa berbuat apa-apa!
Tipis Harapan
Kembali, pak mantri dipanggil, meski harapan itu tipis, karena pak
mantri sudah menyarankan keluarga Waluyo untuk membawa ke rumah sakit.
Tetapi apa daya keluarga Waluyo jika sudah tidak ada uang lagi. Maka,
hanya berharap pada pak mantri. Bukan mustahil, kedatangan pak mantri
pun sekedar memeriksa dan kembali memberi obat yang tak berbeda dengan
yang ia berikan pada saat sebelumnya. Karena pak mantri tahu, dia sudah
tidak sanggup menangani Waluyo yang dia ketahui seperti terserang
penyakit aneh.
Tidak ada perkembangan dengan penyakit yang
diderita Waluyo, pihak keluarga memilih jalan lain --mendatangi orang
pintar. Entah diberi ramuan apa, setelah keluarga mendatangi orang
pintar itu, perut Waluyo berangsur-angsur kecil. Tetapi, ada hal aneh.
Setelah perut Waluyo itu mengecil, tiba-tiba dadanya membengkak. Dengan
bengkak itu, Waluyo semakin menderita dan sebentar-sebantar meminta
tolong. Siang dan malam, Waluyo menjerit-jerit. Keluarga kembali tidak
punya pilihan lain, mendatangi orang pintar kembali.
Akhirnya, lambat laun dada Waluyo kempes. Tetapi, lagi-lagi hal aneh
harus membuat Waluyo tidak bisa bersuara kecuali menjerit kesakitan
karena setelah dadanya mengecil, berganti lehernya yang membengkak. Rasa
sakit pun mendera Waluyo. Bahkan karena tak kuat menanggung sakit itu,
terbersit permintaan putus asa dari mulut Waluyo akibat dirundung
kesakitan. Dia meminta pihak keluarga untuk membunuhnya. "Setelah
perutnya mengecil, berganti dadanya membesar dan saat dadanya itu
mengecil, kemudian disusul lehernya yang membesar, dia meringis
kesakitan, bahkan meminta dibunuh saja oleh salah satu keluarganya agar
segera meninggalkan dunia," cerita Ngali kepada hidayah.
Tidak ada pihak keluarga yang tega melakukan keinginan Waluyo itu, dan
kembali orang pintar dimintai bantuan. Tapi leher Waluyo masih membesar
dan sakit yang diderita Waluyo tak juga kunjung sembuh, meski sudah
berkali-kali keluarga datang ke orang pintas bahkan tak cuma satu orang
pintar.
Setelah tak ada perkembangan, sejak delapan bulan
Waluyo diserang penyakit aneh, dan hanya terbaring di ranjang, akhirnya
pihak keluarga memanggil kiai. Akhirnya pak kiai itu datang (setiap
hari) ke rumah Waluyo membaca ayat suci al-Qur`an. Seminggu kemudian, ia
menghembuskan nafas terakhir pada suatu malam yang menyedihkan, lima
tahun lalu. Ia pergi meninggalkan istrinya (Saliyem) dan lima anak.
Pesugihan
Sudah menjadi rahasia umum warga kampung bahwa Waluyo kaya dari
hasil pesugihan. Bukan mustahil kalau dulu ia miskin, artinya
biasa-biasa saja dan bahkan menanggung banyak utang, lantas ia menjadi
kaya dalam waktu yang singkat, maka warga menjadi tahu. Alasannya, ia
diketahui oleh warga kerap datang ke dukun. Tapi, sebagaimana datangnya
kekayaan Waluyo yang cepat, dalam waktu yang singkat pula ia tiba-tiba
jatuh miskin. Warga pun tidak heran!
Dari cerita-cerita yang
beredar di kampung Salak, Waluyo diketahui takut dengan akibat yang bisa
didapatkan dari pesugihan itu. "Setelah Waluyo takut, akhirnya ia
meninggalkan pesugihan itu dan tidak lagi pergi ke dukun", ujar Ngali.
"Beberapa tahun kemudian, ia akhirnya jatuh miskin. Tambaknya yang luas
mulai susut serta berangsur-angsur ludes. Lebih mengenaskan, rumahnya
yang megah terjual dan dia mendiami rumah yang jelek. Istri mudanya pada
akhirnya minggat meninggalkannya," lanjutnya ketika menceritakan
perihal riwayat hidup Waluyo saat jatuh miskin.
Hingga
akhirnya, karena Waluyo tak lagi memiliki mata pencaharian dan tambak
sebagai lahan mencari uang, ia bekerja menjual pisau. Karena hasil yang
ia dapat tak seberapa banyak, maka istrinya jualan jamu keliling. Tahun
berlalu, usia Waluyo kian bertambah, hingga akhirnya dia diserang
penyakit aneh. Mula-mula perutnya bengkak. Lalu dadanya membesar.
Setelah dadanya mengecil kemudian ganti lehernya yang membesar hingga
kemudian kematian menjemput Waluyo setelah ia meradang kesakitan, dan
bahkan sempat minta untuk dibunuh karena tak kuat menangggung rasa
sakit.
Leher Bengkak
Setelah jenazah Waluyo dirawat
--dimandikan, dikafani dan dishalati--, esok harinya, jenazah
diberangkatkan ke pemakaman umum kampung. Iring-iringan pengantar
membawa jenazah orang yang dulu sempat kaya tapi kemudian jatuh miskin
itu dengan iba. Maklum, warga tahu saat jenazah diantar ke tempat
peristirahatan, tak ada yang dibawa sebagai bekal, kecuali amal dan
perbuatan baik.
Setelah memasuki pintu pemakaman dan tak lama
kemudian sampai di lubang kubur, keranda yang membawa jenazah Waluyo
itu pun diletakkan. Jenazah Waluyo kemudian diambil dari keranda oleh
empat orang pelayat dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Saat jenazah
dimasukkan ke dalam liang itu, masih terlihat dengan jelas leher Waluyo
bengkak. Tapi, apa mau dikata? Leher itu tidak bisa mengecil. Maka saat
jenazah Waluyo dikuburkan, dan lehernya masih besar, meninggalkan
perguncingan, bahkan hingga beberapa hari setelah orang-orang pulang
dari pemakaman.
Semoga kisah ini bisa menjadi "pelajaran
berharga" bagi kita semua untuk tak terlena dengan keinginan untuk jadi
kaya, karena kekayaan itu hanya sarana hidup. Lebih penting dari itu,
adalah amal dan perbuatan baik. Apalagi, kalau keinginan untuk kaya itu
harus melupakan ajaran agama, datang ke dukun mengambil pesugihan.
Padahal dukun itu manusia biasa dan rezeki hanya Allah yang punya bukan
milik siapa pun. Juga, Allah Maha Kuasa. Jika Allah sudah menghinakan
orang, maka tidak ada yang bisa menolak, termasuk Waluyo.
Ibarat pepatah, sudah jatuh masih tertimpa tangga. Itulah perjalanan
hidup Waluyo karena dia dahulu kaya, lantas jatuh miskin kemudian masih
ditambah lagi meninggal dengan cukup mengenaskan. Leher Waluyo
membengkak saat ajal menjemput.
BOX
Ngali (24 tahun), tetangga almarhum
"Sudah Jatuh Miskin, Mati pun Susah"
Dulu, di kampung kami dia itu dikenal sebagai orang yang kaya. Dia
memiliki tambak yang luas dan hidup makmur. Bahkan sempat memiliki dua
istri. Tapi sayang, kekayaan yang ia miliki itu ternyata hasil dari
pesugihan. Orang=orang di kampung, semua nyaris tahu kalau ia itu
mengambil pesugihan dan sering ke dukun.
Akhirnya, ia merasa
takut dengan apa yang diperbuat. Ia tak lagi ke dukun serta meninggalkan
pesugihan. Lambat laun, kekayaan yang dia miliki akhirnya habis. Ia
jatuh miskin. Karena jatuh miskin, istri muda meninggalkannya. Ia
menjalani hidup penuh dengan kesengsaraan. Ia tak lagi punya tambak,
rumahnya yang dulu megah berubah jadi jelak.
Untuk menyambung
hidup, dia kemudian kerja menjual pisau dan istrinya jualan jamu.
Hingga tahun berlalu, ia akhirnya menderita sakit aneh. Perutnya
mendadak besar. Setelah perutnya mengecil, tiba-tiba dadanya jadi
membesar. Setelah dadanya kempes, lalu disusul lehernya yang membesar.
Tak kuat menahan sakit yang diderita, ia merengek-rengek kesakitan.
Bahkan karena cukup sakit, dia sempat meminta untuk "dibunuh" saja agar
bisa terbebas dari derita. Dia lebih memilih meninggal dibunuh daripada
menanggung kesakitan.
Tetapi tak ada yang tega. Keluarga lalu
memanggil seorang kiai. Alhamdulillah, setelah kiai itu mendoakan,
tidak berapa lama kemudian ia meninggal. Tapi leher almarhum masih
meninggalkan bekas derita yang ia tanggung. Leher almarhum tetap
membesar, bahkan saat dikebumikan.